PERJALANAN SERIBU MIL, DIMULAI DENGAN SATU LANGKAH


img
  • 28 November 2025
  • Admin

Salfatoriana Refra atau yang biasa di sapa Mami Ria adalah seorang Ibu 3 Anak yang berusia 40 tahun,  berdarah asli Kei, Maluku Tenggara. Mami Ria yang berprofesi sebagai Bidan tercatat sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) sejak tahun 2000 dan saat ini bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat sebagai kepala seksi Kesehatan keluarga dan Gizi.

 

Kabupaten Asmat adalah salah satu kabupaten dengan konteks yang kompleks dan rentan terhadap masalah kesehatan karena terbatasnya akses masyarakat ke layanan kesehatan dan kurangnya pengetahuan tentang manfaat layanan kesehatan. Disamping itu masyarakat hidup dengan cara berburu dan meramu sehingga sering kali berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam jangka waktu yang lama. Karena konteks yang kompleks inilah, pada tahun 2017 akhir menuju 2018 tepat di distrik Pulau Tiga, terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit Diare, Campak dan Gizi Buruk yang menyerang bayi-balita sehingga setidaknya ada sekitar 72 bayi-balita meninggal dunia  (http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43363665.amp). Kejadian ini merupakan hal yang sangat memilukan, dan Mami Ria sungguh merasa sangat terpukul dan sedih melihat keadaan ini sehingga memutuskan untuk mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya agar dapat membantu penanganan KLB tersebut.

 

Pada tahun 2021, tenaga Kesehatan di kabupaten Asmat diajari tentang layanan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) melalui pendampingan UNICEF-GAPAI dan Mami Ria teringat akan peristiwa KLB yang pernah terjadi, dan merasa bahwa layanan MTBS bisa menjadi cara yang tepat untuk mendeteksi potensi KLB. Layanan MTBS dirasa sangat bermanfaat karena bisa mendeteksi beberapa penyakit sekaligus yang diderita oleh bayi-balita, termasuk melacak status gizi dan status imunisasi pada satu kali kunjungan ke Puskesmas.

 

Banyak hal yang telah dilakukan Mami Ria agar layanan ini bisa berjalan secara menyeluruh pada semua Puskesmas di Kabupaten Asmat. Sikap semangat dan selalu ingin mempelajari hal baru yang dimilikinya memotivasi tenaga kesehatan yang berusia lebih muda darinya. “Mami Ria biar usianya sudah tua tapi orangnya smart (pintar). Suka dengan tantangan baru dan bertanggung jawab sekali. Selalu tidak mengenal lelah untuk memberi masukan pengalaman dan selalu menginspirasi untuk memotivasi buat nakes (tenaga kesehatan) yang muda” kata Bidan Agnes, salah satu tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas Atsj, Kabupaten Asmat.

 

 

Sejak pendampingan yang dilakukan UNICEF-GAPAI pada tahun 2021-2022, layanan MTBS baru berjalan pada 14 Puskesmas. Melihat keberhasilan layanan MTBS yang berpotensi menurunkan angka kematian pada kelompok rentan yaitu bayi-balita, membuat Mami Ria tidak hanya tinggal diam.

 

Mami Ria terus berupaya untuk mengusulkan penganggaran  pelaksanaan kegiatan kalakarya MTBS pada tahun 2023 melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat. Proses pengusulan anggaran kegiatanpun dimulai dengan melakukan pembicaraan kepada kepala Bidang Kesehatan Masyarakat-Dinas Kesehatan kabupaten Asmat (Dr. Steven Langi) dan dilampirkan juga data LB3 Kab Asmat (Jan-Sept 2022). Tercatat melalui LB3 Asmat tahun 2022,  ada 3.922 balita yang diperiksa dengan layanan MTBS dimana untuk klasifikasi yang ditemukan sendiri, ada 45 kasus Gizi Buruk, 999 kasus Diare dan 90 Kasus Campak dan juga klasifikasi penyakit lainnya.  Jumlah ini mungkin saja bertambah jika layanan MTBS dikerjakan secara menyeluruh di semua Puskesmas di Kabupaten Asmat.

Pada tahun 2023 layanan MTBS berhasil dianggarkan oleh Pemda Asmat dan dikerjakan pada 22 Puskesmas yang saat ini aktif beroperasi di Kabupaten Asmat. Mami Ria merupakan orang yang selalu memotivasi agar layanan MTBS berjalan setiap hari, karena setiap kali kunjungan yang dilakukan oleh bayi-balita adalah suatu kesempatan langka, dan seharusnya tenaga kesehatan bisa memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan pelayanan terbaik yang mereka bisa.

 

 

 

 

 

Sejak layanan MTBS berjalan, Dinas Kesehatan kabupaten Asmat hanya memiliki setidaknya 2 kali penganggaran setiap tahun untuk memantau langsung  jalannya layanan MTBS di Puskesmas mengingat biaya transportasi sangat mahal. Hal tersebut tidak mematahkan semangat Mami Ria karena tetap bisa memanfaatkan peluang yang ada dengan cara memantau layanan MTBS hampir setiap hari melalui WAG (WhatsApp Grup) MTBS-Asmat. Respon masing-masing Puskesmas juga sangat baik, karena merasa hasil kerja mereka bisa dilihat meski hanya melalui WAG, dan juga ada proses sharing informasi yang membuat Puskesmas yang 1 bisa belajar dari Puskesmas lainnya.

Tiada hari tanpa sapaan Mami Ria di WAG MTBS-Asmat. Sapaan Mami Ria yang sangat dikenal adalah: “Puskesmas tutupkah hari ini?” “Apakah jaringan lagi jelek kah?” anak-anakku semua di Puskesmas lagi libur kah? Ingat tetap kerja dengan hati”, “semua anakku di Puskesmas, hari minggu tidak ada layanan tapi tetap ada yang jaga, jadi tetap share hasil layanan”, dan masih banyak lagi sapaan lainnya.  Pemantauan melalui WAG MTBS ini dilakukan untuk mengatasi kendala seperti tidak tepatnya penentuan klasifikasi sakit bayi-balita berdasarkan gejala yang dibuktikan pada pengisian form MTBS, alur pemeriksaan yang terlewat atau kurang lengkap dan mengecek ketersediaan obat atau alat yang dipakai pada pemeriksaan di layanan MTBS, juga memantau penemuan penyakit yang merupakan keterpaduan program kesehatan. Hal lain yang menraik juga, ketika ada kendala yang ditemukan terkait program lain yang ditemukan pada layanan MTBS, misalnya Malaria, Diare, Gizi, atau Imunisasi , biasanya langsung terjawab oleh masing-masing penanggungjawab program yang tergabung dalam WAG tersebut.

 

Ada satu Pengalaman yang tidak terlupakan bersama Mami Ria yang diingat stafnya (Ibu Jein Chelli), saat melakukan kegiatan kalakarya MTBS pada bulan Juni 2023. Mami Ria bersama stafnya melakukan perjalanan menggunakan transportasi laut melewati sungai besar menuju 4 Puskesmas yang masing-masing memakan waktu sekitar 5-9 jam perjalanan dengan waktu tempuh normal dari Agats. Perjalanan melewati sungai besar sangat beresiko, apalagi ketika tidak memperhitungkan waktu pasang-surut air laut karena bisa memakan waktu perjalanan lebih lama dari waktu tempuh normal. Pada waktu itu, seluruh wilayah Papua Selatan sedang terdampak oleh perubahan iklim, dan suhu menjadi sangat dingin. Seharusnya Mami Ria dan staf nya bisa melakukan perjalanan lebih jauh, tetapi karena hari hampir gelap Mami Ria memutuskan untuk menginap di salah satu Puskesmas yang saat itu cukup dekat dengan jarak mereka yaitu Puskesmas Daikot di Distrik Joutu yang jika ditempuh dengan waktu normal sekitar 7 jam perjalanan dari Agats. Sesampainya di dermaga, bersama dengan staf nya masih menempuh perjalanan darat dengan berjalan kaki sekitar 800 meter untuk sampai ke Puskesmas Daikot. Hari sudah gelap, curah hujan yang rendah, suhu menjadi sangat dingin dan berjalan di atas tanah rawa tidak mematahkan semangat dari wanita berusia 40 tahun ini. Menurut Mami Ria, usia hanyalah angka karena setiap orang diberikan hikmat dan kemampuan dari Tuhan untuk melakukan hal baik bagi sesamanya setiap hari. Puseksmas Daikot merupakan satu dari sekian banyak Puskesmas di Kabupaten Asmat dengan akses yang sulit dijangkau, tidak ada jaringan telekomunikasi dan listrik. Sesampainya di Puskesmas sekitar pukul 19.30 WIT, hanya bermodal mesin diesel untuk menerangi Puskesmas, Mami Ria dengan semangatnya tetap mengajari tenaga Kesehatan di Puskesmas Daikot bagaimana menjalankan layanan MTBS. Menurut Mami Ria, layanan MTBS merupakan layanan yang sangat membantu tenaga kesehatan pada Puskesmas di daerah sulit seperti di Kabupaten Asmat, karena layanan ini membantu tenaga kesehatan lebih terampil untuk melayani masyarakat, terutama bayi-balita.

 

Satu kutipan dari Mami Ria yang diingat petugas Puskesmas “Kenapa Kabupaten lain bisa maju, kenapa kita di pedalaman Asmat yang dengan berbagai masalah hambatan tidak bisa? Kita harus tunjukan kalau kita juga bisa” kata Bidan Lusia yang saat ini bertugas di Puskesmas Ayam, Kabupaten Asmat.

 

Mami Ria membuktikan bahwa segala kesulitan yang ada di kabupaten ini bukanlah sebuah hambatan. Hidup dan mengabdi di daerah dengan geografis yang sulit, proses mobilisasi yang diatur oleh cuaca dan keterbatasan akses untuk berkomunikasi dengan staf di Puskesmas, tetapi itu tidak mematahkan semangatnya karena mampu melihat peluang di setiap tantangan yang ada. Bagi Mami Ria, keberhasilan hanya terletak pada kemauan dan niat kita, ketika kita tidak menemukan solusi dari tantangan yang kita hadapi, mungkin saja cara yang kita pakai untuk memecahkan tantangan tersebut belum sesuai, artinya selalu ada jalan ketika ada kemauan dan semangat.